Minggu, 15 Desember 2019

Umrah menghapus dosa dan kefakiran

Umrah menghapus dosa dan kefakiran

Tiap orang tentu merindukan tanah suci, terlebih Ka’ bah di tanah haram Makkah. Di tempat tersebut terdapat 2 kegiatan ibadah yang mulia ialah umrah serta haji. Buat umrah sendiri dapat dicoba tiap dikala. Sebaliknya haji cuma spesial di bulan haji, bulan Dzulhijjah.

Umrah sendiri mempunyai sebagian keutamaan.

1. Umrah merupakan jihad sebagaimana ibadah haji.

‘ Aisyah mengatakan,

قُلْتُيَارَسُولَاللَّهِعَلَىالنِّسَاءِجِهَادٌقَالَ«نَعَمْعَلَيْهِنَّجِهَادٌلاَقِتَالَفِيهِالْحَجُّوَالْعُمْرَةُ».

“ Wahai Rasulullah, apakah perempuan pula harus berjihad?” Dia shallallahu‘ alaihi wa sallam menanggapi,“ Iya. Ia harus berjihad tanpa terdapat peperangan di dalamnya, ialah dengan haji serta‘ umroh.”( HR. Ibnu Majah nomor. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Angkatan laut(AL) Albani).

2. Menghapus dosa di antara 2 umrah.

Dari Abu Hurairah, dia mengatakan, Rasulullah shallallahu‘ alaihi wa sallam bersabda,

الْعُمْرَةُإِلَىالْعُمْرَةِكَفَّارَةٌلِمَابَيْنَهُمَا،وَالْحَجُّالْمَبْرُورُلَيْسَلَهُجَزَاءٌإِلاَّالْجَنَّةُ

“ Antara umrah yang satu serta umrah yang lain, itu hendak menghapuskan dosa di antara keduanya. Serta haji mabrur tidak terdapat balasannya melainkan surga.”( HR. Bukhari nomor. 1773 serta Muslim nomor. 1349)

3. Umrah melenyapkan kefakiran serta menghapus dosa.

Dari Abdullah, Rasulullah shallallahu‘ alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوابَيْنَالْحَجِّوَالْعُمْرَةِفَإِنَّهُمَايَنْفِيَانِالْفَقْرَوَالذُّنُوبَكَمَايَنْفِىالْكِيرُخَبَثَالْحَدِيدِوَالذَّهَبِوَالْفِضَّةِوَلَيْسَلِلْحَجَّةِالْمَبْرُورَةِثَوَابٌإِلاَّالْجَنَّةُ

“ Ikutkanlah umrah kepada haji, sebab keduanya melenyapkan kemiskinan serta dosa- dosa sebagaimana pembakaran melenyapkan karat pada besi, emas, serta perak. Sedangkan tidak terdapat pahala untuk haji yang mabrur kecuali surga.”( HR. An Nasai nomor. 2631, Tirmidzi nomor. 810, Ahmad 1/ 387. Kata Syaikh Angkatan laut(AL) Albani hadits ini hasan shahih)

Ibadah mulia ini juga dicoba oleh Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam serta para teman baik tatkala dia shallallahu‘ alaihi wa sallam masih hidup ataupun juga kala telah tiada. Ini juga menampilkan kemuliaan ibadah tersebut.

Mudah- mudahan Allah mudahkan kita melaksanakan ibadah yang mulia ini. Wallahu waliyyut taufiq.

Rujukan: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, terbitan Maktabah Taufiqiyah, 2/ 276.

Senin, 25 November 2019

Keutamaan umrah di Bulan Ramadhan

Keutamaan umrah di Bulan Ramadhan

Umrah sudah kita ketahui keutamaannya. Sebagaimana amalan ada yang memiliki keistimewaan jika dilakukan pada waktu tertentu, demikian pula umrah. Umrah di bulan Ramadhan terasa sangat istimewa dari umrah di bulan lainnya yaitu senilai dengan haji bahkan seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita,

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا
“Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?”

Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya –ditunggangi suami dan anaknya-. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam lafazh Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,


فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863).

Apa yang dimaksud senilai dengan haji?
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Apakah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji yang wajib?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah (ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) pernah menerangkan maksud umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendapat pertanyaan, “Apakah umrah di bulan Ramadhan bisa menggantikan haji berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berumrah di bulan Ramadhan maka ia seperti haji bersamaku”?

Jawaban Syaikh rahimahullah, “Umrah di bulan Ramadhan tidaklah bisa menggantikan haji. Akan tetapi umrah Ramadhan mendapatkan keutamaan haji berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Umrah Ramadhan senilai dengan haji.” Atau dalam riwayat lain disebutkan bahwa umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu yang dimaksud adalah sama dalam keutamaan dan pahala. Dan maknanya bukanlah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji. Orang yang berumrah di bulan Ramadhan masih punya kewajiban haji walau ia telah melaksanakan umrah Ramadhan, demikian pendapat seluruh ulama. Jadi, umrah Ramadhan senilai dengan haji dari sisi keutamaan dan pahala. Namun tetap tidak bisa menggantikan haji yang wajib.” [Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Baz]

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus beramal sholih dan dimudahkan untuk melaksanakan umrah maupun haji ke Baitullah. Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 12 Sya’ban 1433 H

Jumat, 22 November 2019

Doa-doa dan bacaan penting saat safar (perjalanan)

Doa-doa dan bacaan penting saat safar (perjalanan)


[1] Doa orang mukim kepada orang yang hendak bersafar

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

ASTAWDI’ULLOHA DIINAKA, WA AMAANATAKA, WA KHOWAATIIMA ‘AMALIK.
Artinya: Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan amal terakhirmu kepada Allah.
[2] Doa bekal takwa dari orang mukim kepada yang hendak bersafar

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

ZAWWADAKALLOHUT TAQWAA, WA GHOFARO DZANBAKA, WA YASSARO LAKAL KHOIRO HAITSUMAA KUNTA.

Artinya: Semoga Allah membekalimu ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkan kebaikan untukmu di mana pun kamu berada.


[3] Doa musafir kepada orang mukim yang ditinggalkan

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

ASTAWDI’UKALLOHALLADZII LAA TADHII’U WA DAA-I’UHU.

Artinya: Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipan [yang dititipkan kepadanya.
[4] Doa ketika keluar rumah

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLOH, LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.


[5] Doa ketika naik kendaraan

بِسْمِ اللَّهِ (3x)

الحَمْدُ للِه

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

سُبْحَانَكَ إِنِّى قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

BISMILLAH (3X), ALHAMDULILLAH

SUBHAANALLADZII SAKH-KHORO LANAA HAADZAA WA MAA KUNNAA LAHUU MUQRINIIN. WA INNAA ILAA ROBBINAA LAMUN-QOLIBUUN.

ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH, ALHAMDULILLAH.

ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR.

SUBHAANAKA INNII QOD ZHOLAMTU NAFSII, FAGHFIRLII FA-INNAHUU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah (3x). Segala puji bagi Allah.

Mahasuci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami.

Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.


[6] Doa saat safar ketika sudah berada di atas kendaraan

الله أَكْبَرُ (3x)

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR.

SUBHAANALLADZII SAKH-KHORO LANAA HAADZAA WA MAA KUNNAA LAHUU MUQRINIIN. WA INNAA ILAA ROBBINAA LAMUN-QOLIBUUN. ALLOHUMMA INNAA NAS-ALUKA FII SAFARINAA HAADZAA AL-BIRRO WAT TAQWAA WA MINAL ‘AMALI MAA TARDHOO. ALLOHUMMA HAWWIN ‘ALAINAA SAFARONAA HAADZAA, WATHWI ‘ANNAA BU’DAHUU. ALLOHUMMA ANTASH SHOOHIBU FIS SAFAR, WAL KHOLIIFATU FIL AHLI. ALLOHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN WA’TSAA-IS SAFARI WA KA-AABATIL MANZHORI WA SUU-IL MUNQOLABI FIL MAALI WAL AHLI.



Artinya:

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.

Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga.

[7[ Membaca “SUBHANALLAH” ketika melewati jalan menurun, membaca “ALLAHU AKBAR” ketika melewati jalan mendaki.

[8] Mendoakan untuk kebaikan diri, keluarga, orang terdekat, dan kaum muslimin secara umum ketika bersafar.

Dalam hadits disebutkan,

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) doa yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) doa orang yang terzalimi, (2) doa seorang musafir, (3) doa orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad, 12:479; Tirmidzi, no. 1905; Ibnu Majah, no. 3862. Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini).

Selasa, 19 November 2019

Untuk Anda yang sangat merindukan Baitullah

Untuk Anda yang sangat merindukan Baitullah

"Bukan Masalah Uang Yang Menjadikan Anda Belum Berangkat Umroh, Bukan Pula Apakah Anda Sudah Layak Atau Tidak"


Bukan Masalah Uang.

Banyak yang tidak berusaha untuk menunaikan ibadah umrah dengan alasan karena belum mampu dari segi finansial.

Mungkin mereka berpikir dengan pekerjaan, mereka “mengukur diri” merasa tidak akan mampu untuk berangkat ke Baitullah.

Padahal, bukan masalah uang.
Bagaimana Jika Banyak Dosa?

Selain uang, ada juga orang yang merasa tidak layak berangkat ke Baitullah karena merasa masih banyak dosa.

Bukan kedua hal ini yang menghalangi Anda berangkat ke Baitullah …

Inilah yang sebenarnya …
Anda tidak harus menunggu punya uang berlebih baru merencanakan berangkat Umroh. Bukan pula menunggu diri Anda bersih dari dosa untuk diundang berangkat umroh.

Namun sejauh mana, niat Anda, serta upaya-upaya yang dilakukan agar menjadikan diri Anda layak diundang Allah ke Baitullah.

Sudahkah Anda selama ini memprogramkan diri agar bisa menunaikan Umroh? Jika Anda benar-benar sudah rindu Baitullah, ada kabar baik bagi Anda. Tidak masalah kondisi Anda saat ini seperti apa, karena sudah kami susun sebuah program, yang sudah terbukti membantu ribuan orang menunaikan Umroh.

Banyak alumni kami yang berangkat ke Baitullah, bukan karena banyak uang, tapi justru berawal dari punya banyak hutang, lalu mengikuti program “99 Hari Menuju Baitulloh" dalam Kelas Umroh,  qodarulloh bisa berangkat dengan kuasa Allah dan bisa bermunajat mempersembahkan doa-doa terindah di tempat-tempat mustajab.